Gedung Kegiatan TBM

Gedung Kegiatan TBM
Tempat kegiatam TBM Jendela Ilmu

Senin, 21 April 2014

MEMBACA ATAU MENULIS ?


Pendidikan sepanjang hayat mengindikasikan bahwasanya menuntut ilmu pengetahuan harus diupayakan salah satunya adalah melalui kegiatan belajar atau learning activity, kegiatan ini dapat dilakukan tidak hanya di dalam lingkungan sekolah-sekolah formal saja akan tetapi kegiatan nonformal merupakan alternatif paling efektif dalam membelajarkan masyarakat, sehingga masyarakat yang masih tertinggal dapat mengakses informasi melalui kegiatan belajar masyarakat. Proses belajar yang paling utama dalam adalah “membaca” sebab dengan kemampuan membaca akan dapat berkembang kepada aspek “menulis” dan selanjutnya akan berkembang ke aspek “menghitung”. Apabila kebiasaan membaca sebagai salah satu unsur   menjadi terminologi dalam memaknai budaya, maka hal itu telah diwariskan  melalui proses belajar meski sederhana atau dalam tingkat yang rendah sekalipun di sebagian besar masyarakat.
 Membaca adalah istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga setiap orang, karena istilah ini sudah sangat sering kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam Al-Qura’an kata-kata bacalah atau Iqra’ adalah kata pertama yang diturunkan. Membaca tidak lagi sekedar bisa membaca huruf A sampai Z saja. Membaca secara lebih luas diartikan sebagai kemampuan yang semakin tinggi untuk memahami dan menghargai berbagai macam bahan bacaan atau hasil karangan.
Rendahnya minat atau kebiasaan membaca masyarakat Indonesia berkaitan dengan konteks budaya, tingkat kesejahteraan sosial masyarakat, kondisi pendidikan formal, atau yang berkaitan dengan peranan keluarga dan masyarakat yang belum sepenuhnya mampu menumbuh-kembangkan minat atau kebiasaan membaca masyarakat.
Menurut Aprilia Purba (Kompas, 4 Januari 1997), ada tiga faktor yang mempengaruhi seseorang untuk membaca , yaitu: (1) ketersediaan buku (accessibility of materials), yang hendaknya dimulai di lingkungan keluarga karena keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama seorang manusia; (2) kemampuan membaca, yang seharusnya juga menjadi perhatian dalam penyediaan bahan-bahan bacaan (misalnya: tingkat kesulitan, mudah dipahami, bahasa yang sederhana); dan, (3) minat baca.
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang cenderung lebih mengembangkan budaya lisan atau dengar dibandingkan dengan budaya tulis, sekali pun budaya tulis sebenarnya telah lama dikenal dan digunakan (Kompas, 1 Februari 1996). Salah satu bukti tentang telah digunakannya bahasa tulis adalah penggunaan daun lontar atau kulit kayu sebagai media untuk menulis pada beberapa abad yang lampau. Namun dalam perkembangannya, justru yang sebaliknya yang terjadi, yaitu budaya lisan yang lebih banyak dikembangkan. Dominasi penggunaan budaya lisan juga dapat dilihat dari berbagai bentuk ungkapan budaya yang berupa kesenian yang berkembang di berbagai daerah. Sebagai contoh adalah pewarisan pengetahuan atau pendadaran untuk menjadi seorang dalang wayang kulit atau dalang wayang orang.    
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar