Gedung Kegiatan TBM

Gedung Kegiatan TBM
Tempat kegiatam TBM Jendela Ilmu

Senin, 21 April 2014

MENGAPA INDONESIA RENDAH MINAT BACANYA ?

      Di negara kita sendiri (Indonesia) upaya untuk menumbuhkan minat baca tulis ini sudah secara tidak langsung dilakukan oleh R.A Kartini (1879-1904) yaitu dengan mengurangi jumlah penderita buta aksara. Kartini mengajar membaca dan menulis kaumnya sekalipun dia sendiri hanya berpendidikan Sekolah Dasar. International Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN.

        Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United Nations Development Program (UNDP) menempatkan Indonesia pada urutan rendah dalam hal pembangunan Sumber daya manusia.  Fenomena umum di negeri ini adalah bahwa budaya lisan atau budaya mendengar lebih kuat mengakar dalam tradisi masyarakat dibandingkan budaya membaca dan menulis. Hal ini terlihat pada realita yang sering kita temui di masyarakat, semisal lebih suka mendengar cerita dari orang lain daripada membaca sendiri, lebih nyaman mengisi waktu luang saat menunggu ataupun tidak melakukan aktivitas yang berarti dengan ngerumpi daripada menjatuhkan pilihan pada membaca ataupun menulis, lebih senang pada tayangan-tayangan yang di-dubbing daripada harus membaca teks terjemahan tertulis dalam suatu tayangan, lebih riang menonton versi layar lebar dari sebuah cerita atau mendengarkan pembacaan puisi ataupun cerpen daripada membaca teks tertulis atau bukunya sendiri, dan sederet realita yang lain.

       Sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca tulis masyarakat Indonesia antara lain:
  • Kurangnya fasilitas pendukung, seperti misalnya perpustakaan yang bisa mendukung minat baca tulis masyarakat. 
  •  Kurangnya penghargaan terhadap hasil karya berupa tulisan. 
  •  Status ekonomi masyarakat kita yang kebanyakan berada di bawah standar menyebabkan sebagian besar masyarakat lebih memilih menghabiskan waktu untuk mencari uang, daripada duduk manis di kursi untuk membaca atau menulis, tidak hanya itu harga buku yang terkadang tidak terjangkau oleh sebagaian masyarkat dapat dijadikan salah satu alasan rendahnya minat baca masyarkat.
  • Adanya asumsi yang berkembang di masyarkat bahwa kegiatan membaca dan menulis adalah pekerjaannya orang-orang mempunyai kemampuan secara intelektual seperti mahasiswa, dosen, politikus, dan lainnya. 
  • Buku yang beredar di masyarakat selama ini kurang bervariasi, secara implisit buku-buku yang ada selama ini memang disediakan untuk mereka yang secara khusus menyediakan waktu untuk membaca. Mengapa? Sebab, performance buku itu sendiri yang mengharuskan dibaca dengan serius dan membutuhkan waktu lama (tema serius, tebal, bahasa, dan kaidah penulisan yang ketat). Karena itu, sebagian orang menganggap membaca buku bukan hal menyenangkan melainkan justru membebani, dan membuat pikiran mumet. Selain kelima hal tersebut diatas, kemajuan di bidang elektronik juga dapat dijadikan sebagai salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat untuk membaca dan menulis, terutama kaum remaja.
Jika di suatu negara minat masyarakatnya untuk menulis dan membaca rendah maka akan sulit membangunan manusia moderen untuk masa depan. Manusia moderen adalah manusia yang siap menghadapi transformasi di segala bidang yang ditunjukkan dengan kemampuan berfikir secara cepat dan tepat. Sebagai bangsa yang masih berkembang dan ketinggalan jauh dari negara-negara maju lainnya dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kita harus cepat berbenah diri dan mulai menigkatkan kualitas sumber daya manusia, yang salah satunya dapat ditempuh dengan meningkatkan minat baca dan tulis masyarkat kita. Karena lewat buku bacaan, kita dengan rela akan meninggalkan pandangan-pandangan sempit yang tidak sesuai lagi dengan zamannya, kita juga dapat memperoleh banyak pengetahuan yang sebelumnya tidak kita ketahui.(ditulis dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar