Gedung Kegiatan TBM

Gedung Kegiatan TBM
Tempat kegiatam TBM Jendela Ilmu

Senin, 21 April 2014

KLIPING : UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA

Kegiatan membaca di TBM

Logman Dictionary of American English (2004,P160), Clipping is an article, picture, etc. that you cut of a newspaper or magazine.
Offord Learner’s Pocket Dictionary 3rd Edition (2000,P74), Clipping is piece cut off something.
Wikipedia.org, Clipping (publication) is the cutting out of articles from a paper publication.
Kliping  merupakan  kegiatan  pengguntingan  atau  pemotongan  bagian- bagian surat kabar maupun majalah, kemudian disusun dengan sistem tertentu dalam berbagai bidang. (http: www.pengertian kliping (4 april 2011).
Menurut  Primanto Nugroho mengatakan kliping bisa dibedakan, pertama untuk kepentingan pribadi (hal ini tergantung pada keperluan, minat dan gaya seseorang). Kedua kliping yang dikerjakan dengan fokus tema tertentu dan ada kejelasan kalangan mana yang memerlukan. Dengan membaca kliping bisa melatih kekritisan berpikir, menganalisa suatu peristiwa dan isi berita. Kliping adalah alat bantu yang bisa dibuat sendiri (mudah dan murah karena waktu dan anggaran bisa disesuaikan kemampuan) agar tidak terseret dalam berbagai arus informasi yang membanjir. Caranya dengan memilih sendiri kumpulan informasi yang diinginkan.
Dalam pembuatan kliping yang harus diperhatikan adalah apa tujuan pembuatan kliping, fokus yang akan dikliping dan sasaran pengguna. Kliping sebagai sumber informasi bisa dijadikan alternatif “pengganti” buku. (http://www.tembi.org/perpus/2006_05_perpus01.htm)
Kliping media massa cetak merupakan media yang kategori media visual. Kliping media massa cetak tersebut berasal dari surat kabar dan majalah / tabloid. Bentuk kliping media massa cetak tersebut berupa media yang dapat diproyeksikan (projected visual) seperti : gambar diam (still pictures) dan potongan informasi/berita serta artikel-artikel yang relevan.
Kata media berasal dari bahasa latin medium yang secara harfiah berarti ’tengah’, ’perantara’,  atau ’pengantar’.  Dalam  bahasa  Arab,  media  adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Menurut Gerlach dan Ely (1971) yang dikutip oleh Azhar Arsyad (2002:3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Secara lebih khusus, pengertian media dalam  proses  belajar  mengajar  cenderung  diartikan  sebagai  alat-alat  grafis, photografis,  atau  elektronis  untuk  menangkap,  memproses,  dan  menyusun kembali informasi visual atau verbal.  Batasan  lain  telah  pula  dikemukakan  oleh  para  ahli  yang  sebagian diantaranya  adalah AECT.  AECT (Association  of  Education  and Communication Technology,  1977) yang dikutip oleh Azhar Arsyad  (2002:3) memberi  batasan  tentang  media  sebagai  segala  bentuk  dan  saluran  yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. 

Kliping merupakan kegiatan pengguntingan atau pemotongan bagian-bagian surat kabar maupun majalah, kemudian disusun dengan sistem tertentu dalam berbagai bidang. (http: www.pengertian kliping (4 april 2011). Manfaat yang didapat ketika membuat kliping adalah membaca dan menulis. Setiap akan membuat kliping berarti harus dibaca dulu judul dan materi yang akan dijadikan kliping, sehingga menjadi kliping yang menarik dan menjadi bacaan yang bermutu. Begitu juga kliping gambar diberi komentar maka ada unsur menulis. Fungsi kliping adalah mengemas ulang bacaan, sedangkan yang dikliping bisa berupa artikel, berita atau foto. Agar terkliping dengan baik maka sumber harus jelas (nama koran, majalah atau yang lain, tanggal terbit, halaman ), tenaga yang telaten, teliti dan kreatif, profesional (bisa memilih tema yang dikliping misal sesuai pengguna atau misi lembaga). Sumber kliping bisa didapat dari terbitan berkala misal jurnal, tabloid, koran, majalah. Terbitan berkala mempunyai kelebihan yaitu: media pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih luas dibanding buku, bisa menyampaikan informasi lebih cepat, bisa terjadi komunikasi dua arah (misal lewat surat pembaca), berisi pikiran-pikiran terbaru yang belum tentu terdokumentasi dalam bentuk buku. Terbitan berkala seperti jurnal, majalah, dan surat kabar memiliki peran penting dalam penyebaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Sebab terbitan ini mampu menampung berbagai ide dan menyebarkannya ke masyarakat yang lebih luas. Kemudian dalam penyampaian informasi, terbitan ini lebih cepat dari pada buku. Sedangkan kandungan informasinya dapat diakses berulang kali bila dibanding dengan informasi yang disampaikan media pandang dengar atau tatap muka. Terbitan berkala yang berisi kekayaan intelektual manusia ini akan selalu menarik dan diperlukan oleh mayarakat terutama masyarakat ilmiah. Informasi ini selalu diperlukan mayarakat untuk meningkatkan kehidupan dan hidup mereka yang lebih dinamis, baik kehidupan individu, bermasyarakat, dan berbangsa. Upaya ini dapat dilakukan antara lain berupa kliping, reproduksi. 
Macam-macam media massa cetak adalah sebagai berikut:
a.         Surat kabar
Surat kabar merupakan barang cetakan yang berisi berita-berita actual yang terbit secara kontinyu. Surat kabar isinya berupa : berita, artikel, feature, gambar dan iklan.
b.         Majalah
                Majalah merupakan sebagai terbitan berkala yang isinya antara lain mencakup segala bentuk karya sastra, liputan jurnalistik, atau pandangan tentang berbagai topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca.


MENGAPA INDONESIA RENDAH MINAT BACANYA ?

      Di negara kita sendiri (Indonesia) upaya untuk menumbuhkan minat baca tulis ini sudah secara tidak langsung dilakukan oleh R.A Kartini (1879-1904) yaitu dengan mengurangi jumlah penderita buta aksara. Kartini mengajar membaca dan menulis kaumnya sekalipun dia sendiri hanya berpendidikan Sekolah Dasar. International Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN.

        Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United Nations Development Program (UNDP) menempatkan Indonesia pada urutan rendah dalam hal pembangunan Sumber daya manusia.  Fenomena umum di negeri ini adalah bahwa budaya lisan atau budaya mendengar lebih kuat mengakar dalam tradisi masyarakat dibandingkan budaya membaca dan menulis. Hal ini terlihat pada realita yang sering kita temui di masyarakat, semisal lebih suka mendengar cerita dari orang lain daripada membaca sendiri, lebih nyaman mengisi waktu luang saat menunggu ataupun tidak melakukan aktivitas yang berarti dengan ngerumpi daripada menjatuhkan pilihan pada membaca ataupun menulis, lebih senang pada tayangan-tayangan yang di-dubbing daripada harus membaca teks terjemahan tertulis dalam suatu tayangan, lebih riang menonton versi layar lebar dari sebuah cerita atau mendengarkan pembacaan puisi ataupun cerpen daripada membaca teks tertulis atau bukunya sendiri, dan sederet realita yang lain.

       Sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca tulis masyarakat Indonesia antara lain:
  • Kurangnya fasilitas pendukung, seperti misalnya perpustakaan yang bisa mendukung minat baca tulis masyarakat. 
  •  Kurangnya penghargaan terhadap hasil karya berupa tulisan. 
  •  Status ekonomi masyarakat kita yang kebanyakan berada di bawah standar menyebabkan sebagian besar masyarakat lebih memilih menghabiskan waktu untuk mencari uang, daripada duduk manis di kursi untuk membaca atau menulis, tidak hanya itu harga buku yang terkadang tidak terjangkau oleh sebagaian masyarkat dapat dijadikan salah satu alasan rendahnya minat baca masyarkat.
  • Adanya asumsi yang berkembang di masyarkat bahwa kegiatan membaca dan menulis adalah pekerjaannya orang-orang mempunyai kemampuan secara intelektual seperti mahasiswa, dosen, politikus, dan lainnya. 
  • Buku yang beredar di masyarakat selama ini kurang bervariasi, secara implisit buku-buku yang ada selama ini memang disediakan untuk mereka yang secara khusus menyediakan waktu untuk membaca. Mengapa? Sebab, performance buku itu sendiri yang mengharuskan dibaca dengan serius dan membutuhkan waktu lama (tema serius, tebal, bahasa, dan kaidah penulisan yang ketat). Karena itu, sebagian orang menganggap membaca buku bukan hal menyenangkan melainkan justru membebani, dan membuat pikiran mumet. Selain kelima hal tersebut diatas, kemajuan di bidang elektronik juga dapat dijadikan sebagai salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat untuk membaca dan menulis, terutama kaum remaja.
Jika di suatu negara minat masyarakatnya untuk menulis dan membaca rendah maka akan sulit membangunan manusia moderen untuk masa depan. Manusia moderen adalah manusia yang siap menghadapi transformasi di segala bidang yang ditunjukkan dengan kemampuan berfikir secara cepat dan tepat. Sebagai bangsa yang masih berkembang dan ketinggalan jauh dari negara-negara maju lainnya dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kita harus cepat berbenah diri dan mulai menigkatkan kualitas sumber daya manusia, yang salah satunya dapat ditempuh dengan meningkatkan minat baca dan tulis masyarkat kita. Karena lewat buku bacaan, kita dengan rela akan meninggalkan pandangan-pandangan sempit yang tidak sesuai lagi dengan zamannya, kita juga dapat memperoleh banyak pengetahuan yang sebelumnya tidak kita ketahui.(ditulis dari berbagai sumber)

MEMBACA ATAU MENULIS ?


Pendidikan sepanjang hayat mengindikasikan bahwasanya menuntut ilmu pengetahuan harus diupayakan salah satunya adalah melalui kegiatan belajar atau learning activity, kegiatan ini dapat dilakukan tidak hanya di dalam lingkungan sekolah-sekolah formal saja akan tetapi kegiatan nonformal merupakan alternatif paling efektif dalam membelajarkan masyarakat, sehingga masyarakat yang masih tertinggal dapat mengakses informasi melalui kegiatan belajar masyarakat. Proses belajar yang paling utama dalam adalah “membaca” sebab dengan kemampuan membaca akan dapat berkembang kepada aspek “menulis” dan selanjutnya akan berkembang ke aspek “menghitung”. Apabila kebiasaan membaca sebagai salah satu unsur   menjadi terminologi dalam memaknai budaya, maka hal itu telah diwariskan  melalui proses belajar meski sederhana atau dalam tingkat yang rendah sekalipun di sebagian besar masyarakat.
 Membaca adalah istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga setiap orang, karena istilah ini sudah sangat sering kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam Al-Qura’an kata-kata bacalah atau Iqra’ adalah kata pertama yang diturunkan. Membaca tidak lagi sekedar bisa membaca huruf A sampai Z saja. Membaca secara lebih luas diartikan sebagai kemampuan yang semakin tinggi untuk memahami dan menghargai berbagai macam bahan bacaan atau hasil karangan.
Rendahnya minat atau kebiasaan membaca masyarakat Indonesia berkaitan dengan konteks budaya, tingkat kesejahteraan sosial masyarakat, kondisi pendidikan formal, atau yang berkaitan dengan peranan keluarga dan masyarakat yang belum sepenuhnya mampu menumbuh-kembangkan minat atau kebiasaan membaca masyarakat.
Menurut Aprilia Purba (Kompas, 4 Januari 1997), ada tiga faktor yang mempengaruhi seseorang untuk membaca , yaitu: (1) ketersediaan buku (accessibility of materials), yang hendaknya dimulai di lingkungan keluarga karena keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama seorang manusia; (2) kemampuan membaca, yang seharusnya juga menjadi perhatian dalam penyediaan bahan-bahan bacaan (misalnya: tingkat kesulitan, mudah dipahami, bahasa yang sederhana); dan, (3) minat baca.
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang cenderung lebih mengembangkan budaya lisan atau dengar dibandingkan dengan budaya tulis, sekali pun budaya tulis sebenarnya telah lama dikenal dan digunakan (Kompas, 1 Februari 1996). Salah satu bukti tentang telah digunakannya bahasa tulis adalah penggunaan daun lontar atau kulit kayu sebagai media untuk menulis pada beberapa abad yang lampau. Namun dalam perkembangannya, justru yang sebaliknya yang terjadi, yaitu budaya lisan yang lebih banyak dikembangkan. Dominasi penggunaan budaya lisan juga dapat dilihat dari berbagai bentuk ungkapan budaya yang berupa kesenian yang berkembang di berbagai daerah. Sebagai contoh adalah pewarisan pengetahuan atau pendadaran untuk menjadi seorang dalang wayang kulit atau dalang wayang orang.    
 

APA ITU TBM ?

Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadikan negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemeratan kesempatan pendidikan. 

Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Pada hakikatnya pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai fungsi: (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan, dan (3) pengembangan potensi diri. Pendidikan diharapkan dapat memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memberi kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan memungkinkan setiap warga negara untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Sementara itu, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan dasar hukum penyelenggaraan dan reformasi sistem pendidikan nasional. Undang-undang tersebut memuat visi, misi, fungsi dan tujuan pendidikan nasional serta strategi pembangunan pendidikan nasional, untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu, relevan dengan kebutuhan masyarakat , dan berdaya saing dalam kehidupan global. 

Dalam Undang- Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 25 Ayat (1) menyebutkan bahwa pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Hal ini berarti pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam rangka mencerdaskan kebidupan bangsa, terutama dalam memberikan layanan pendidikan bagi warga masyarakat yang karena sesuatu hal tidak dapat mengikuti pendidikan formal. Sasaran pendidikan nonformal antara lain warga masyarakat yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal atau penyandang buta aksara, putus sekolah yang disebabkan oleh berbagai hal, penduduk usia produktif yang tidak bersekolah dan tidak bekerja, warga masyarakat yang membutuhkan kecakapan hidup tertentu, serta warga masyarakat lainnya yang membutuhkan wawasan, pengetahuan atau keterampilan tertentu guna meningkatkan taraf kehidupannya. 

Pendidikan nonformal memiliki karakteristik sesuai dengan kebutuhan sasaran dan lebih bersifat fleksibel dalam memberikan layanan pendidikan bagi warga masyarakat dari berbagai lapisan. Salah satu media penunjang pelaksanaan pendidikan nonformal diantaranya Taman Bacaan Masyarakat (TBM), yaitu lembaga yang dibentuk dan diselenggarakan oleh dan untuk masyarakat guna memberikan kemudahan akses dalam memperoleh bahan bacaan bagi warga masyarakat. Keberadaan lembaga TBM merupakan bagian dan kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang sehingga memerlukan berbagai informasi baik berupa wawasan, pengetahuan, maupun keterampilan sesuai karakteristik dan potensi daerah setempat. 

Taman Bacaan Masyarakat yang selanjutnya disebut TBM adalah tempat atau ruang yang disediakan untuk menyimpan, memelihara, menggunakan koleksi buku, majalah, koran, dan bahan multi media lain untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan, dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara perseorangan, kelompok atau kelembagaan. (Direktorat Pendidikan Masyarakat, Direktorat PNFI Depdiknas, Jakarta 2009) Menurut Sutarno NS (2006 : 19) Taman Bacaan Masyarakat (TBM) mempunyai tanggung jawab, wewenang, dan hak masyarakat setempat dalam membangunnya, mengelola dan mengembangkannya. Dalam hal ini perlu dikembangkan rasa untuk ikut memiliki (sense of belonging), ikut bertanggung jawab (sense of responsibility) dan ikut memelihara (melu hangrukebi). 

TBM merupakan sarana peningkatan budaya membaca masyarakat dengan ruang yang disediakan untuk membaca, diskusi, bedah buku, menulis, dan kegiatan sejenis lainnya yang dilengkapi dengan bahan bacaan, berupa: buku, majalah, tabloid, koran, komik, dan bahan multi media lain, serta pengelola yang berperan sebagai motivator. TBM merupakan jantung pendidikan masyarakat, dan dengan bahan bacaan yang disediakan diharapkan mampu memotivasi dan menumbuh kembangkan minat dan kegemaran membaca bagi aksarawan baru, warga belajar, dan masyarakat. Dengan tumbuhkembangnya minat dan kegemaran membaca, maka membaca akan menjadi suatu kebiasaan yang akan dilakukan setiap hari sebagaimana memenuhi kebutuhan hidup. Penyelenggaraan TBM dianjurkan di lokasi yang strategis artinya di tempat-tempat lalu lalang/biasa dikunjungi orang, misalnya: di jalan utama desa (wilayah), berdekatan dengan tempat ibadah, tempat belajar (PAUD, kursus, sekolah dan lembaga lainnya). Menyadari pentingnya fungsi TBM tersebut, perlu dilakukan penataan dari aspek kelembagaan, sehingga TBM dapat berfungsi secara optimal. Penataan kelembagaan dimaksud antara lain terkait dengan manajemen kelembagaan, penyediaan dan penataan koleksi baik berupa bahan bacaan maupun media edukasi, pengelola yang terampil dan berdedikasi, serta sarana pendukung yang memadai. Sejak awal sebuah perpustakaan didirikan, apa pun jenisnya telah disebutkan bahwa perpustakaan atau taman bacaan masyarakat mempunyai kegiatan utama mengumpulkan semua sumber informasi dalam berbagi bentuk yakni tertulis (printed matter) terekam (recorded matter) atau dalam bentuk lain. Kemudian semua informasi tersebut diproses, dikemas, dan disusun untuk disajikan kepada masyarakat yang diharapkan menjadi target dan sasaran akan menggunakan taman bacaan tersebut.